Doa Memegang Ubun Ubun Istri Setelah Akad Nikah: Bolehkah Dibaca di Depan Keluarga? Ini Adabnya – Pada momen usai akad nikah, suasana pelaminan biasanya terasa hangat dan penuh khidmat. Suami yang baru saja mengucapkan ijab qabul kerap memegang ubun-ubun istrinya sambil membaca doa singkat.
Bolehkah doa memegang ubun-ubun istri setelah akad nikah dibaca di depan keluarga? Jawabannya iya, dengan catatan suami harus tetap menjaga adab, kesopanan, dan privasi. Utamakan keikhlasan dan kehati-hatian agar momen sakral ini berkah dan bermakna bagi keluarga
- Poin Penting
- Doa memegang ubun ubun istri setelah akad nikah: inti amalan & tujuannya
- Bacaan doa (Arab, latin, arti) + dalil hadits
- Bolehkah dibaca di depan keluarga?
- Adab praktis yang bisa langsung dipakai (Checklist)
- Kesalahan umum yang sering terjadi
- Kesimpulan
- FAQ
- Naskah 1 menit untuk suami (script singkat)
Poin Penting
- Doa memegang ubun-ubun istri adalah amalan sunnah bertujuan memohon keberkahan dan kebaikan bagi keluarga.
- Teks doa dalam bahasa Arab beserta transliterasi dan artinya sudah tertera sesuai riwayat hadits Sunan Abu Dawud dan Ibn Majah.
- Hadits Sunan Abu Dawud no.2160 dan Sunan Ibn Majah no.1918 menilai anjuran ini hasan (sunnah), bukan wajib.
- Boleh dibaca di depan keluarga dengan syarat suami berbicara lirih, menunduk, dan memperhatikan suasana (hindari kesan pamer atau ada non-mahram).
- Jika situasi tidak memungkinkan (misal istri berhijab tebal atau keramaian), suami bisa menunda atau cukup berdoa dalam hati tanpa gestur mencolok.
Doa memegang ubun ubun istri setelah akad nikah: inti amalan & tujuannya
Menurut Kementerian Agama (KUA Banda Aceh), pernikahan adalah sunnah Nabi Muhammad SAW yang menyempurnakan separuh agama dan mewujudkan keluarga sakinah, mawaddah, warahmah. Salah satu tradisi pasca-akad yang sering muncul adalah doa singkat sambil memegang ubun-ubun istri.
Inti amalan ini adalah memohon kebaikan (khair) dan perlindungan (a’udzhu) bagi sang istri serta keharmonisan rumah tangga. Menurut Harinikahannet, gerakan lembut tangan di atas kepala istri disertai doa menggambarkan niat suami memohon agar keluarga kelak dilimpahi berkah dan terjaga dari segala kejelekan.
Apa makna dan kapan dibaca (momen “setelah akad” di praktik modern)
Menurut Ustadz M. Junaidi Sahal, setelah akad nikah biasanya suami melakukan sujud syukur, mencium ubun-ubun atau kening istri, lalu membaca doa tersebut. Doa ini bermakna permohonan agar Allah memberikan kebaikan kepada istri dan melindunginya dari keburukan.
Dalam praktik pernikahan modern, bacaan ini umumnya diucapkan segera setelah ijab qabul selesai dan kedua mempelai masih berada di pelaminan. Suasana saat itu diharapkan tenang agar doa dapat diresapi dengan khusyuk.
Apakah sunnah atau wajib (jelaskan dengan hati-hati)
Menurut Sunan Abu Dawud no. 2160, hadits yang menganjurkan doa ini memiliki sanad hasan (dinilai Hasan oleh Syaikh Al-Albani), sehingga anjuran tersebut bersifat sunnah (tidak wajib). Demikian pula Sunan Ibn Majah no. 1918 memuat lafaz doa yang sama dan juga dinilai hasan.
Dengan kata lain, mempraktikkan doa sambil memegang ubun-ubun merupakan pilihan sunnah untuk menambah keberkahan, bukan syarat sah atau kewajiban nikah. Para ulama sepakat bahwa memohon berkah bagi istri setelah akad adalah perilaku yang terpuji, namun meninggalkannya tidak membatalkan akad. Menurut Imam Syafi’i (dalam riwayat Muhammad Bagir), suami dianjurkan mengusap kepala istrinya sambil berdoa sebagai simbol kasih sayang.
Bacaan doa (Arab, latin, arti) + dalil hadits
Menurut riwayat hadits Sunan Abu Dawud dan Ibn Majah yang disebut di atas, lafaz doa memegang ubun ubun istri setelah akad nikah adalah sebagai berikut:
- Arab: اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ.
- Latin: Allahumma inni as’aluka khairaha wa khaira maa jabaltahaa ‘alaihi, wa a’udzu bika min syarriha wa syarri maa jabaltahaa ‘alaihi.
- Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan (istriku) dan kebaikan apa pun yang telah Engkau tetapkan untuknya. Dan aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya serta kejelekan apa pun yang telah Engkau tetapkan untuknya.”
Dalil dari Sunan Abi Dawud no. 2160
Menurut Sunan Abu Dawud no. 2160, hadits tersebut bersumber dari riwayat ‘Amr bin Shu’aib dari kakeknya (Abdullah bin ‘Amr). Dalam hadits itu Rasulullah SAW bersabda bahwa ketika seseorang menikah, ia dianjurkan memegang ubun-ubun wanita yang dinikahinya lalu berdoa seperti lafaz di atas. Ulama menilai sanadnya hasan, sehingga mengamalkan doa ini adalah sunnah yang dicontohkan Nabi.
Dalil dari Sunan Ibn Majah no. 1918
Menurut Sunan Ibn Majah no. 1918, lafaz doa yang sama juga diriwayatkan dalam bab nikah (adab beristri). Ibn Majah mencatat teks doa serupa bagi suami yang baru menikah atau membeli budak, yang nilai sanadnya hasan menurut Darussalam. Kesamaan lafaz dari kedua riwayat ini menegaskan bahwa doa tersebut memang autentik dan dianjurkan.
Bolehkah dibaca di depan keluarga?
Menurut Dr. Zulkifli Al-Bakri, amalan sunah manapun sebaiknya dilaksanakan dengan menjaga adab dan kehormatan pasangan. Doa memegang ubun-ubun istri boleh dibaca di depan keluarga selama memperhatikan etika: suami sebaiknya berbicara lirih, menundukkan kepala, dan memilih waktu yang tenang.
Jangan sampai doa ini terkesan pamer atau membuat istri merasa tidak nyaman. Jika suasana pelaminan masih ramai, suara doa cukup kecil atau bisa ditunda hingga berada di ruang lebih privat (misalnya setelah acara inti selesai). Prinsip utamanya adalah mengedepankan niat baik dan rasa hormat kepada istri serta tamu, sehingga doa tetap khusyuk dan bermakna.
Tabel Skenario Adab saat Doa Memegang Ubun-Ubun:
| Situasi | Potensi canggung/mudharat | Adab yang disarankan | Opsi alternatif aman |
|---|---|---|---|
| Di pelaminan segera setelah akad | Banyak tamu menyaksikan, privasi minim | Baca doa pelan, tundukkan kepala, jaga kesopanan | Tunda doa ke ruang pribadi setelah pelaminan selesai |
| Saat sesi foto pengantin | Kamera dan ponsel aktif, momen jadi tontonan | Ucap lirih, senyum ke istri, hindari sorotan | Fokus pose dan peluk lembut tanpa doa di depan umum |
| Bersama keluarga besar di ruangan | Ada non-mahram dekat, adat keluarga ketat | Pastikan audiens dekat, jaga aurat, baca hati-hati | Berdoa dalam hati saja atau saat sendiri later |
| Acara adat lanjutan (midodareni) | Banyak ritual, suasana ramai | Pilih jeda tenang di sela acara, tutup sedikit pintu | Lakukan doa di rumah pengantin sebelum resepsi |
| Ruangan kecil/terbuka | Privasi rendah, risiko fokus publik | Tegaskan wajah ke bawah, suara lirih, badan condong ke istri | Cukup sujud syukur di ujung karpet tanpa gestur |
Adab praktis yang bisa langsung dipakai (Checklist)
Menjaga adab dan ketulusan saat mendoakan istri membuat amalan lebih bermakna. Berikut langkah praktisnya:
Sebelum membaca
Menurut Harinikahannet, sebelum membaca doa sebaiknya suami memastikan niat ikhlas dan suasana sudah tenang. Persiapan: Kembalikan niat hanya untuk mencari ridha Allah. Pastikan istri telah siap duduk dengan nyaman dan rambutnya tertutup rapi (jika berhijab).
Cek pula situasi sekitar; hindari membacakan doa jika istri sedang terganggu atau sedang tidak nyaman. Intinya, mulailah dengan keikhlasan, perasaan hormat, dan suasana khusyuk agar doa dapat diserap hati.
Saat membaca
Tata cara: Duduklah dengan santai di samping istri. Pegang ubun-ubun istri lembut (melewati hijab jika mengenakan) sambil membaca doa. Ucaplah doa dalam hati atau berbisik sangat lirih agar tidak mengganggu tamu.
Fokuslah pada makna setiap kata: bayangkan sedang memohon kebaikan bagi istri. Jika gugup, tarik napas dalam-dalam dan lanjutkan doa dengan tenang. Rasulullah SAW mencontohkan melakukan doa ini dengan penuh kelembutan. Hindari suara keras, gestur berlebihan, atau memalingkan wajah agar istri merasa dihormati.
Setelah membaca
Akhiri dengan penuh kasih: Usai doa, tepuk ringan atau peluk lembut istri sebagai tanda cinta dan dukungan. Tamu atau orang tua biasanya menyambutnya dengan senyum atau anggukan – tak perlu komentar panjang.
Suami dapat melanjutkan dengan sujud syukur sejenak di samping istri untuk menutup amalan ini. Jika pada akhirnya belum sempat, tetap lanjutkan acara berikutnya dengan menjaga khidmat. Opsi aman jika sulit menyentuh ubun-ubun (misal hijab tebal atau banyak non-mahram): cukup sampaikan doa lirih tanpa gestur, atau lakukan sujud syukur sebagai pengganti kontak fisik.
Kesalahan umum yang sering terjadi
- Menganggapnya wajib. Menyakini doa ini wajib setiap akad nikah keliru; hadits menilainya hasan, artinya sifatnya sunnah. Menurut harinikahannet, berprasangka mustahil jika anjuran sunnah disangka wajib, karena justru mengurangi hikmah dari amalan tersebut.
- Membaca keras untuk konten. Memaksa diri berdoa keras agar terekam di media sosial melanggar adab; saatnya suami berdoa adalah untuk keluarga sendiri, bukan untuk tontonan. Lebih baik baca lirih atau bahkan hanya dalam hati agar khusyuk.
- Tidak menjaga privasi dan aurat. Menjalankan doa ini di depan non-mahram tanpa tata krama bisa menimbulkan fitnah. Ulama menekankan agar aktivitas semacam ini dilakukan di tempat cukup tertutup agar aurat istri terjaga. Misalnya, tutup ruang sedikit atau pilih waktu saat tamu sedang sibuk.
- Salah lafaz tanpa perbaikan. Banyak suami asal baca doa ini tanpa memastikan pelafalan benar. Padahal setiap lafaz dalam bahasa Arab mengandung arti penting. Jika ragu, segera cek lafaz atau tanya guru agama agar doa tidak sia-sia. Melafalkan dengan benar adalah bagian dari adab berdoa.
- Memaksa pasangan tidak nyaman. Ada yang memaksakan doa ini di saat istri sedang tidak siap (misal lelah atau malu). Paksaan hanya menimbulkan stres dan batal fokus. Menurut harinikahannet, momen ini lebih indah jika dilakukan dengan penuh cinta; jangan sampai istri tersinggung. Hargai kenyamanan istri – jika ia keberatan, doakan dia di waktu lain yang lebih tenang.
- Menonjolkan diri. Memamerkan momen doa dengan cara berlebihan (misal teriak atau berdiri di atas pelaminan) malah mengurangi kekhusyukan. Menurut harinikahannet, doa ini justru lebih berkualitas jika dibaca tenang dan tulus, bukan sebagai tontonan. Hindari kesalahan-kesalahan di atas agar momen sakral tetap membawa berkah.
Kesimpulan
Doa sambil memegang ubun-ubun istri setelah akad merupakan amalan sunnah (riwayat Sunan Abu Dawud & Ibn Majah, dinilai hasan) yang tujuan utamanya memohon kebaikan dan perlindungan bagi istri serta keharmonisan rumah tangga. Doa ini boleh dibaca di hadapan keluarga asalkan suami menjaga adab: berbicara lirih, menunduk, menghormati aurat, dan mengutamakan kenyamanan istri.
Jika suasana tidak memungkinkan (keramaian, hijab tebal, ada non-mahram), opsi aman adalah membaca dalam hati, menunda ke ruang privat, atau melakukan sujud syukur. Hindari menjadikannya tontonan, membaca keras demi media sosial, memaksa pasangan, atau melafalkan tanpa benar—niat ikhlas, kesopanan, dan privasi menjadikan amalan ini bermakna dan berkah.
FAQ
Apakah doa memegang ubun-ubun istri harus selalu dilakukan tepat setelah ijab qabul?
Tidak harus. Waktu yang dianjurkan memang setelah akad, tetapi jika situasi belum memungkinkan (ramai, kurang privasi, atau istri belum siap), doa boleh ditunda ke momen yang lebih tenang tanpa mengurangi nilai sunnahnya.
Bagaimana jika suami lupa membaca doa ini setelah akad nikah?
Tidak ada kewajiban untuk mengulang atau menggantinya. Doa ini bersifat sunnah, sehingga lupa atau tidak sempat membacanya tidak berdampak apa pun pada keabsahan akad nikah.
Apakah doa tetap sah jika dibaca tanpa menyentuh ubun-ubun istri?
Ya, sah. Inti amalan terletak pada doa dan niat memohon keberkahan. Menyentuh ubun-ubun hanyalah simbol kelembutan dan kasih sayang, sehingga doa boleh dibaca tanpa gestur fisik, terutama jika ada kendala adab atau privasi.
Bolehkah doa ini dibaca dalam bahasa Indonesia jika belum hafal bahasa Arabnya?
Boleh. Meskipun lafaz Arab berasal dari hadits, membaca doa dengan bahasa yang dipahami tetap bernilai ibadah, selama maknanya sejalan dengan permohonan kebaikan dan perlindungan kepada Allah.
Apakah istri juga boleh ikut mengaminkan atau membaca doa ini?
Boleh. Istri dapat mengaminkan dalam hati atau lisan secara lirih. Hal ini justru menambah kekhusyukan dan menunjukkan kebersamaan dalam memulai kehidupan rumah tangga.
Apakah membaca doa ini di depan umum bisa dianggap pamer ibadah (riya)?
Bisa, jika dilakukan dengan suara keras dan gestur berlebihan. Karena itu, adab menjadi kunci. Selama dibaca lirih, penuh hormat, dan tanpa niat pamer, doa ini tetap bernilai ibadah dan tidak termasuk riya.
Naskah 1 menit untuk suami (script singkat)
“Cinta, kini kita sah menjadi suami istri. Aku berdoa semoga Allah memberkahi rumah tangga kita, menjadikan keluarga kita sakinah, dipenuhi cinta, dan selalu dalam lindungan-Nya.”
(Bacakan dengan suara lembut dan mata sedikit tertutup, tangan di ujung kepala istri atau di dada suami.)
Buku bimbingan pra-nikah (panduan lengkap tentang doa dan adab pernikahan) – karena belajar bersama pasangan dapat memperkuat persiapan spiritual, kelas bimbingan pra-nikah di KUA (untuk memahami fiqih nikah dan tata cara resmi), serta checklist persiapan akad nikah (agar semua ritual dan doa tertata rapi). Artikel ini disusun sebagai informasi edukatif, bukan fatwa. Bila ragu, konsultasikan dengan ustaz/ustazah setempat.
Dengan doa yang ikhlas dan adab yang baik, semoga setiap langkah pernikahan kita penuh keberkahan, ketenangan, dan rahmat-Nya. Semoga Allah menguatkan tali kasih suami-istri, menjadikan rumah tangga senantiasa sakinah, mawaddah, warahmah.
Referensi:
- Sunan Abu Dawud no. 2160 (Hadits tentang doa setelah akad nikah, nilai sanad Hasan).
- Sunan Ibn Majah no. 1918 (Hadits serupa, nilai sanad Hasan).
- Kementerian Agama RI – Kantor KUA Banda Aceh: Pelaksanaan akad nikah sesuai adat Aceh … mewujudkan keluarga sakinah, mawaddah, warahmah.
- Sindonews.com (M. H. Yusufpati), “Doa Memegang Ubun-Ubun Istri Setelah Akad Nikah”.
- Oase.id (Julia Octri Amelia), “Nabi Menganjurkan Suami Membaca Doa Bagi Pengantin Pria Setelah Akad Nikah”.
- Detik.com (Safir Senduk), “Adab Suami Istri dalam Islam”.





Leave A Comment